Contact Us!

Tentang Kami

loading...

Berita

loading...
loading...

Blog Artikel

Oleh :Jauhari, SP (Wasbitnak Ahli Muda)

Kelahiran pedet hasil persilangan Belgian Blue ><   Aceh bukanlah hasil final. Karena pedet tersebut akan masih terus dikaji secara mendalam terkait dengan pertumbuhan dari pasca partus hingga pasca sapih. Sehingga akan didapatkan ternak hasil persiangan Belgian Blue><   Aceh yang memiliki performans yang baik.

POLA PEMULIAAN (Breeding Scheme)

Oleh: Beni Kuswani, S.Pt

 

Pemuliaan ternak merupakan upaya jangka panjang dalam menentukan karakteristik ternak seperti apa yang menjadi permintaan pasar di masa mendatang serta merencanakan untuk menghasilkan ternak-ternak yang diharapkan tersebut. Pemuliaan sangat berperan dalam kegiatan produksi ternak diantaranya untuk menghasilkan ternak-ternak yang efisien dan adaptif terhadap lingkungan. Produksi ternak yang efisien bergantung pada keberhasilan memadu sumber daya manusia, sumber daya alam, sistem managemen, pakan, kontrol penyakit dan perbaikan genetik.

Peningkatan mutu genetik akan efektif jika diketahui parameter genetik sifat-sifat produksi yang mempunyai nilai ekonomis diikuti dengan tujuan pemuliaan (breeding objective) dan pola pemuliaan (breeding scheme) yang jelas. Salah satu metode untuk peningkatan genetik pada ternak dapat dilakukan melalui seleksi dalam kelompok ternak lokal dengan tujuan untuk meningkatkan frekuensi gen yang diinginkan. Kegiatan seleksi akan efektif jika jumlah ternak yang diseleksi banyak dan terdapat catatan performans individu dari setiap ternak tersedia.

Salah satu cara untuk mengatasi hal ini adalah, seleksi atau peningkatan mutu genetik dilakukan pada kelompok-kelompok tertentu kemudian disebarkan pada kelompok lain. Struktur ternak bibit umumnya berbentuk piramida yang terbagi menjadi tiga strata (tiers) yaitu pada puncak piramida kelompok elit (nucleus), kelompok pembiak (multiplier), dan paling bawah kelompok niaga. Pola pemuliaan ada dua bentuk yaitu pola inti tertutup (Closed nucleus breeding scheme) dan pola inti terbuka (Open nucleus breeding scheme).

1)    Pola inti tertutup (Closed nucleus breeding scheme). Pada pola tertutup aliran gen hanya berlangsung satu arah dari puncak (nucleus) ke bawah tidak ada gen yang mengalir dari bawah ke nucleus. Perbaikan genetik pada commercial stock terjadi bila ada perbaikan pada nucleus. Peningkatan mutu genetik pada nucleus tidak segera tampak pada strata dibawahnya, dibutuhkan waktu untuk meneruskan perubahan kemajuan genetik pada suatu strata ke strata berikutnya. Perbedaan performans antara dua strata yang berdekatan biasanya diekspresikan dengan jumlah tahun terjadinya perubahan genetik yang ditunjukkan oleh perbedaan performan antara strata yang berdekatan.

2)    Pola inti terbuka merupakan suatu sistem dimana inti (nucleus) tidak tertutup, oleh karena itu aliran gen tidak hanya dari strata atas ke bawah tetapi juga dari bawah ke atas. Karena itu setiap perbaikan genetik yang diperoleh dari hasil seleksi di tingkat dasar akan memberikan kontribusi pada peningkatan genetik di inti, besarnya kontribusi bergantung kepada laju aliran gen dari dasar ke inti. Dengan masuknya ternak bibit dari kelompok lain ke inti hubungan kekerabatan antara induk dengan jantan makin jauh sehingga laju inbreeding berkurang. Kemajuan genetik pada sistem terbuka lebih tinggi dibandingkan dengan sistem tertutup. Pada sistem terbuka respons seleksi meningkat 10 sampai 15%, dengan laju inbreeding lebih rendah 50% bila dibandingkan dengan sistem tertutup pada kondisi dan ukuran sama.

MANAJEMEN PEMBESARAN PEDET BARU LAHIR PADA BPTU- HPT  INDRAPURI

Oleh : Ir. Jamaliah (Wasbitnak Madya)

Keberhasilan pembibitan sapi Aceh pada BPTU-HPT Indrapuri sangat tergantung pada manajemen program pembesaran pedet  sebagai replacement stock. 

PROBLEMA KAWIN BERULANG  

Oleh : drh. Ainul Mardhiah/drh. T. Rizalsyah

Banyak faktor yang menyebabkan kawin berulang, antara lain faktor genetik saluran reproduksi, hormonal, pakan kondisi semen dan waktu inseminasi serta teknik inseminasi (IB).

Komoditas peternakan masih menjadi andalan tersendiri pemerintah Provinsi Aceh, sektor peternakan ini mampu memenuhi salah satu kebutuhan pangan asal hewan yang dibutuhkan para konsumen di Provinsi Aceh, dan  mampu meningkatkan peningkatan perekonomian masyarakat disamping sektor lainnya seperti pertanian ,perikanan dan perkebunan.

Provinsi Aceh salah satu Provinsi di Indonesia sebagai sentral produksi sapi Aceh  dengan popolasi saat ini hasil dari survey yang dilakukan diketahui bahwa  sapi Aceh berada pada posisi menghkawatirkan dan kecenderungan menurun dari tahun ketahun.Populasi sapi Aceh pada tahun 2002 adalah 711,143 ekor,turun menjadi 671.086 ekor tahun 2010 dan menjadi 580.287 ekor pada tahun 2015 ( Diskeswannak Aceh,dalam Zulyazaini at al 2016 ).

Link Terkait

Video Profile & Link BPTU-HPT Seluruh Indonesia

loading...

Pusat Informasi

loading...

Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah

loading...

Laporan-Laporan

loading...