Assign modules on offcanvas module position to make them visible in the sidebar.

Testimonials

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.
Sandro Rosell
FC Barcelona President

 ABSES PADA SAPI

Oleh drh. Ainul Mardhiah dan drh. T. Rizalsyah,

 

 

Abses merupakan salah satu masalah yang cukup sering terjadi pada sapi perah. Abses merupakan akumulasi lokal dari eksudat purulent yang berasal dari degeneratif sel-sel radang, sebagai reaksi sel radang. Abses merupakan kumpulan nanah yang terbentuk akibat jaringan yang rusak, pada hewan ternak sering ditemukan pada permukaan tubuh. Abses dibedakan menjadi abses terbuka dan abses tertutup.

Abses tertutup merupakan pengumpulan cairanbersifat purulent yang berlokasi dalam suatu jaringan tubuh tertentu dan kadang - kadang berkapsula oleh tenunan ikat. Kejadian abses dapat dibedakan menjadi dua, yaitu abses acut dan abses kronis. Kejadian abses acut ini biasanya berlangsung satu minggu atau sepuluh hari dan dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, zat-zat yang bersifat iritan serta akibat kausa mekanik. Abses kronis terjadi karena trauma yang berulang-ulang sehingga terjadi kerusakan jaringan dibawah kulit, kemudian mikroorganisme terutama bakteri pyogenes menginfeksi daerah yang mengalami trauma sehingga terjadi pembentukan nanah di daerah tersebut.

Abses merupakan kumpulan nanah (netrofil yang mati) yang berada dalam kavitas jaringan tubuh yang biasanya pada daerah kulit dan menimbulkan luka yang cukup serius karena infeksi dari bakteri pembusuk. Sebenarnya Abses itu sendiri merupakan reaksi ketahanan  dari jaringan untuk menghindari menyebarnya benda asing di tubuh.

            Pada abses terdapat nanah yang terlokalisasi dan dikelilingi oleh jaringan yang meradang. Abses bisa terjadi pada setiap jaringan solid tetapi yang sering terjadi pada kulit, paru-paru, otak, ginjal dan tonsil. Struktur akhir dari suatu abses adalah dibentuknya dinding abses, atau kapsul, oleh sel-sel sehat di sekeliling abses sebagai upaya untuk mencegah nanah menginfeksi struktur lain di sekitarnya.  

 Abses dapat bersifat akut maupun kronik.

 Umumnya kondisi abses yang bersifat akut ditunjukan dengan pembengkakan, peningkatan suhu (panas), dan adanya rasa sakit.  Kondisi selanjutnya akan diiikuti oleh adanya penurunan suhu tubuh dan mulai berkurangnya rasa sakit. Abses kronis merupakan lanjutan dari abses akut, dimana abses berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Abses ini dicirikan dengan kerasnya jaringan pada lesio abses karena terbentuknya fibrosis, dan suhu daerah lesio dingin. Abses kronik biasanya berwarna merah keabu-abuan. Selain itu, terdapat sedikit atau bahkan tidak ada vaskularisasi di daerah lesio atau di sekitarnya.  Kondisi abses biasanya diawali oleh adanya perlukaan pada tubuh. Adanya luka terbuka memungkinkan masuknya agen mikroba. Agen mikroba yang masuk dalam tubuh kemudian memicu terjadinya reaksi inflamasi. Reaksi inflamasi ini akan ditunjukkan salah satunya dengan kondisi abses.

Agen penyebab abses

Beberapa bakteri pembentuk nanah  antara lain adalah  Pseudomonas sp, pyogenes (kelompok streptococus), kadang-kadang Escherichia Coli yang merupakan bakteri yang umumnya terdapat dilingkungan radang . Luka yang terbuka dibagian permukaan tubuh akan memudahkan bakteri masuk secara persisten dan akan menyebabkan terbentuknya eksudat purulent. Bakteri yang biasa menyerang luka adalah bakteri pyogenikseperti staphylococus aurus, saat kulit terjadi perlukaan maka tubuh akan merespon dengan adanya sel-sel darah putih yaitu neutrofil dan makrofak untuk membunuh bakteri yang ada, jika infeksi terlalu parah maka sel-sel darah ini akan mati lalu membentuk nanah dan peradangan terus terjadi. Abses yang terjadi dapat membuat ruptur jaringan peradangan dan infeksi akan semakin lama terjadi

Gejala klinis abses

Gejala klinis dilapangan umumnya berupa kebengkakan, panas dan kemerahan, benjolan yang ditemukan biasanya memiliki konsistensi yang lembek dan disertai fluktuasi didalamnya bila dipalpasi.  Apabila diincisi dan ditekan dengan tangan maka akan keluar cairan kental, keruh berwarna merah kekuningan. Hal ini menunjukkan bahwa luka tersebut telah terkontaminasi oleh mikroorganisme pyogenes.

Mengobati Abses (Terapi)

Salah satu tindakan yang dapat dilakukan untuk mengobati kondisi abses ialah dengan pembedahan. Tindakan pembedahan dilakukan dengan membuat lubang pada daerah abses kemudian dilakukan pembersihan rongga abses dari jaringan mati. Diusahakan pembersihan ini dilakukan hingga rongga abses benar-benar bersih dari jaringan mati dengan membuat luka baru. Rongga abses yang telah disayat dibiarkan tetap terbuka agar penyembuhan lebih cepat terjadi. Abses kulit yang tergolong ringan dapat sembuh dengan sendirinya, atau mengering dan menghilang tanpa diperlukan perawatan. Namun, abses berukuran besar sering kali memerlukan pengobatan antibiotik untuk melawan infeksi.